POTENSI EKONOMIS KEANEKARAGAMAN HAYATI

  Ekosistem Pesisir dan Laut

1. Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa endapan kalsium karbonat (CaCO3)

yang dihasilkan terutama hewan karang. Karang adalah hewan yang tidak bertulang belakang yang

termasuk dalam phylum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria yang dapat mengeluarkan

CaCO3. Jika CaCO3 terkena air laut maka akan membentuk endapan kapur (Timotius, 2003 dalam

Yulianda

dkk.,

2009).

Terumbu karang adalah

ekosistem yang memerlukan

nutrien lingkungan dengan

konsentrasi rendah, seperti

di lautan tropis, dimana

tumbuhan dan organisme

autotrof lainnya seringkali

memanfaatkan nitrogen dan

fosfor yang tersedia. Cahaya

merupakan salah satu faktor

yang penting bagi karang

hermatypic

(kelompok

karang yang mampu

membentuk terumbu).

Cahaya dibutuhkan oleh

simbion karang zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuh karang hermatypic yang merupakan penyuplai utama kebutuhan hidup karang.

Terumbu karang memiliki nilai penting sebagai sumber makanan, habitat bagi berbagai biota laut.

yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, sebagai penyedia jasa alam dalam kegiatan wisata

bahari, sebagai tempat perlindungan bagi satwa laut lainnya dari hewan pemangsa, tempat mencari

makan dan berkembang biak bagi ikan-ikan terumbu dan sebagai penghalang bagi daerah pantai dari

terjangan gelombang.


2. Mangrove

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang sangat berperan bagi sumberdaya ikan. Ekosistem

mangrove berfungsi sebagai tempat mencari makan bagi ikan, tempat memijah, tempat berkembang

biak dan sebagai tempat memelihara anak. Ekosistem mangrove juga dapat berfungsi sebagai

penahan abrasi yang disebabkan oleh gelombang dan arus, selain itu ekosistem ini juga secara

ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, alat tangkap ikan dan bahan membuat rumah.Hutan mangrove di Nusa Tenggara Timur terdapat kurang lebih 9 (sembilan) famili yang terbagi

dalam 15 (lima belas) spesies antara lain: Bakau Genjah (Rizhophora mucronata), Bakau Kecil

(Rizhophora apiculata), Bakau Tancang (Bruguiera spp), Bakau Api-api (Avicennia spp), Bakau Jambok

(Xylocorpus spp), Bakau Bintaro (Cerbera manghas), Bakau Wande (Hibiscus tiliaceus) dan lain-lain.


3. Padang Lamun

Ekosistem padang lamun mempunyai peran penting, ditinjau dari beberapa aspek keanekaragaman

hayati padang lamun memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Indonesia diperkirakan memiliki

13 jenis lamun. Selain itu

padang lamun juga

merupakan habitat penting

untuk berbagai jenis hewan

laut, seperti: ikan, moluska,

krustasea, ekinodermata,

penyu, dugong, dll. Lamun

dapat juga mengurangi

dampak gelombang pada

pantai sehingga dapat

membantu menstabilkan

garis pantai.


4. Habitat Perairan Dalam

Habitat perairan dalam TNP Laut Sawu terdiri dari ambang laut dalam, selat, pulau samudera

(oceanic island), dan pulau satelit (satellite island). Ambang laut dalam merupakan pematang bawah

laut yang dapat membatasi aliran air dalam antara dua lubuk laut. Sedangkan selat merupakan

terusan sempit yang menghubungkan dua masa air yang lebih besar. Daerah ini penting sebagai

daerah lintasan migrasi setasea dan fauna besar laut lainnya. Pulau samudera merupakan pulau￾pulau terpencil yang dikelilingi oleh laut dalam. Di kawasan TNP Laut Sawu sendiri, yang termasuk

pulau samudera yaitu Pulau Dana di Kabupaten Sabu Raijua. Adapun daerah yang diidentifikasi

sebagai Pulau Satelit menurut Kahn (2008) adalah pulau yang terletak di dekat daratan utama akan

tetapi pulau tersebut terisolasi (terpisah) dari daratan utama itu karena berada dekat kontur

kedalaman 200m.

Komentar